MUSIM kemarau paling menyiksa bagiku. Bukan panas itu yang menyiksaku, bukan. Tetapi yang selalu menghantui pikiranku adalah "kapan aku bisa membeli sepatu baru, seperti kawan-kawanku?" Tanyaku dalam hati.
Sepanjang waktu, dari pagi ke siang, siang ke sore, sore ke malam, hingga pagi lagi, yang terdapat dalam diriku hanyalah malu. Karna sebuah sepatu yang kupakai sudah tak lagi layak di pakai untuk ngampus di sekelas Universitas Negri. Mungkin dari semua mahasiswa hanya aku saja yang masih memakai sepatu yang bisa di bilang "a
mburadul".
Tetapi aku tak pundung putus asa, aku selalu sabar, selalu mengumpulkan uang walau sedikit demi sedikit. Aku juga teringkat kata pepata " sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit," kata pepatah itu lah yang terus menerus menyemangatiku untuk mengumpulkan uang sereceh, duareceh.
Suatu hari saat aku sedang berada di loby ada seseorang yang mengejekku, menertawaiku, bersama teman-temannya. Aku hanya diam dan senyum, kalau aku melawan sudah pasti aku habis karna tidak ada seseorangpun yang mau menjadi sahabat baikku, apalagi seorang wanita, mana mau ia menjadi sahabat baikku, untuk menjadi sahabat baik saja tak mau, apalgi menjadi seorang yang selalu menyemangatiku seperti ibu? Itu hal yang mustahil !
Dari hari ke hari waktu kewaktu aku selalu memakai Sepatu itu walau banyak derita yang aku terima ketika aku memakainya, walau serangan cemoohan selalu menjadi makanan setiap hari di kampus. Tetapi aku tak pundung putus asa, aku merasa senang setiap ada seseorang yang mengejek tentang sepatuku. Karna setidaknya ada orang yang masih mempedulikan sepatuku walau lewat ejekan.
Setiap hari aku selalu sendiri tidak hanya di kampus, di sekitar lingkunganpun aku selalu sendiri. Bukan aku tak bisa bergaul atau tak bisa bersosialisasi terhadap orang lain tetapi orang lain hanya melihat dari penampilanku saja. " Don't Judge A Book By Its Cover," kata itu ternyata hanya menjadi guyonan semata bagi orang- orang yang tak mengerti apa maksud dari kata itu. Bukan aku tak suka terhadap orang yang tak mengerti kata itu, tetapi di mana letak otakmu yang tak mengerti kata sependek itu? wahai manusia yang ada di muka bumi janganlah kau menilai orang dari penampilan nya saja. Kau telusuri dulu manusia yang kau anggap sampah apa latar belakang mereka jangan kau langsung menghujat saja. Tak baik, jika kau terus menyimpan sifat itu, buanglah jauh-jauh sifat itu, agar kau tahu bahwa hal indah tidak hanya di rasakan ketikakau menghujat oranglain. Camkan itu !
Semoga ini sebuah cuehatan
BalasHapusBukan karangan wkwk
Nice artiikel
#nderod
Hidup ini pilihan, di mana kita mau bertahan dalam pedih atau menyerah bagai pecundang.
BalasHapusTulisannya menginspiratif mantap👏
sangat mengispirasi
BalasHapus