Malam tiba
menyelimutiku dengan hembusan angin yang menusuk hingga ke tulang rusuk, aku
yang sedang duduk di gubuk pinggir pantai seketika terdiam. Sejenak
menikmati alam yang sedang mengeluarkan alunan merdu antara angin yang beradu
dengan desiran ombak dan pohon yang tertiup angin diiringi suara binatang yang
semuanya melebur menjadi satu. Sungguh malam yang begitu indah menememani ke
hampaanku.
Dan akupun
terdiam sejenak.
Mengingat
tentang seseorang yang pernah singgah di hatiku.
Yaitu dia...
Andai saja
ia berada di sampingku, pasti aku akan mengajaknya berjalan di pesisir pantai.
Memegang erat tangannya dan menggodanya hingga ia tersipu malu. Lalu aku akan
memeluknya dan yang terindah aku dapat mencium keningnya.
Tapi...
Semua itu
hanya ilusi...
“Mengapa aku
selalu mengingatnya ketika aku sedang sendiri?”, Tanyaku dalam hati.
Apa mungkin
dia adalah simbiosis mutualisme yang selalu aku ingat ketika aku sedang
menyendiri?
Pikirankupun
mulai bertanya-tanya, mengapa semua ini terjadi dikala aku sedang sendiri?
mengapa ingatan ini tidak muncul ketika aku sedang bersendagurau dengan
kawan-kawanku?
Mengapa...?
Kau
menyakitiku, saat aku mulai nyaman dengan kebohongan cintanya yang ia beri
kepadaku.
Bukankah itu
sakit ?
Aku selalu
membunuh rasa sakit itu dengan sengaja, namun semuanya hanya sia-sia aku
malah terluka. Aku tak pernah berputus asa, ku coba membunuhnya dengan
perlahan, hingga rasaku padamu sekarang hilang, walau berbekas kenangan. Aku
merelakanya pada sang waktu dan berdo’a pada Rabbku. “semoga kau bahagia selalu
walau kau tak bersamaku.”
***
Perlahan
hembusan angin yang menyelimutiku tadi membuat bulu yang ada di sekujur tubuhku
terbangun. Sehingga membuat malamku yang penuh ke indahan dan ke bimbangan ku
tadi tersirat mengusirku untuk segera pergi dari gubuk yang sedang aku duduki.
Tuhan begitu
baik kepadaku, menyuruhku untuk beristirahat agar kelak esok hari akan ada
hikmah atas kebimbanganku tadi.
Aku pergi
meninggalkan tempat yang penuh keindahan dan kebimbanganku tadi, satu dua
langkah akupun terus berjalan tanpa memikirkan apa yang akan terjadi pada esok
hari.
Berharap
suatu saat ia mampu merasakan apa yang aku rasakan selama ini. Aku tak mampu
mendua dan aku tak mampu hidup sendiri. Jika suatu saat dia menyadari, aku akan
kembali menjaganya sampai akhir cerita. Namun jika ia membisu, mungkin kisah
ini cukup sampai di sini.
Komentar
Posting Komentar